Prolog
Seorang yeoja
berjalan sendirian di tengah malam, tujuannya yang pasti ingin pulang. Terlihat
jelas wajahnya cemas, melihat dia berada di kawasan paling rawan di daerah
Myeongdong. Ia memasukkan tangannya ke dalam saku mantelnya. Bodoh memang karena
ia tidak minta dijemput oleh supirnya. Ia terlalu asyik membaca di perpustakaan
tua, sehingga lupa waktu. Kini sudah hampir jam 12 malam. Appa dan Ummanya
sedang ke Busan, sedangkan ia lupa membawa ponsel. Beberapa ahjussi
mendekatinya sepertinya mereka tidak sadarkan diri,
“Agashi,
annyeonghaseyo.” Sapa mereka dengan muka menyeringai membuat yeoja itu semakin
takut. Ia mempercepat langkahnya lalu berbelok mencari jalan raya. Ia
terbelalak, yang dia dapati malah jalan buntu.
“Aigoo…” ia
mendesah khawatir. 4 ahjussi yang sedari tadi mengikutinya tersenyum licik
memandangi yeoja cantik yang berpostur tinggi semampai walau umurnya masih
terbilang sangat muda.
“Mianhe ahjussi, apa yang anda mau? Aku hanya seorang pelajar.” Ucapnya
gemetar, ia sekarang sudah sangat ketakutan. Ahjussi mabuk itu malah tambah
mendekat kepadanya.
“Agashi neomu yeppo. Maukan menemani kami minum ?”
Yeoja itu tidak tahu harus berbuat apa. Biasanya ia hidup dalam
kenyamanan, tapi tidak malam ini. Kakinya bergetar tak mampu berjalan lagi.
Ahjussi-ahjussi tadi mulai mengepungnya, ia membungkukkan badan berusaha
melindingi dirirnya, saat tangan kasar itu mulai menyentuh mantelnya dengan
sekuat tenaga ia berteriak.
“Andweee… Jeball”
***
Kedua namja yang kelihatannya masih remaja keluar dari sebuah tempat
karaoke. Mereka sedang senang,
habis merayakan sesuatu. Namun, tidak dipungkiri mereka kelelahan. Sesekali
mereka menggerakkan badan membentuk gelombang dan saling membalas gerakan satu
sama lain. Malam ini sepertinya kurang kendaraan, mereka berniat berjalan kaki
hingga pemberhentian bis di ujung jalan. Namun, suara seorang yeoja memecah
malam sunyi, membuat mereka reflex berlari ke arah gang kecil. Mereka mendapati
beberapa ahjussi sedang mengerumuni sesuatu, tepatnya seseorang.
Namja yang lebih
tinggi maju duluan menghempaskan sebuah kepalan ke salah seorang ahjussi mabuk
itu. Sontak mengagetkan ahjussi yang lain, tak terima dipukul mereka malah
mengalihkan perhatian kepada namja manis itu, yang sepertinya memang jago
berkelahi. Sedang namja yang lebih putih dan kecil mengambil kayu bekas untuk
maju membantu temannya. Maklum ia butuh senjata, tidak seperti temannya yang
memang pemegang sabuk hitam taekwondo.
Pertarungan itu terlihat sangat seru, dua namja umur 18 tahun lawan 4 orang
ahjussi yang sedang kehilangan akal sehat. Yeoja yang tadi hanya meringkuk kini
berani mengangkat wajahnya, ia mengumpulkan keberanian untuk berdiri. Ingin
rasa ia melarikan diri tapi kakinya belum kuat untuk berjalan apalagi berlari.
“Yahh,, agashi.. lari dari sini… ppallliii…” seru kedua namja itu hampir bersamaan. Wajah
mereka terlihat sama di cahaya remang-remang. Yeoja itu menangis dari tadi, ia
takut sangat takut.
‘Larilah... Lapor polisi segera.” Suara itu terdengar sangat kewalahan.
Yeoja itu segera berlari, namun sebuah tangan menahannya. Ia berusaha
melepaskan genggaman orang itu, hingga ia terhempas jatuh di jalan. Kepalanya
membentur aspal tapi ia masih sadarkan diri. Lututnya sakit, ia coba berdiri
walau badannya terasa perih terutama kepalanya. Ia berusaha berlari lagi.
Ahjussi yang tadi mengejarnya meraih sebuah kayu mengayunkan ke arah yeoja itu.
Yeoja itu tidak sadar,
“Awass…” suara itu
memperingatkannya, kayu itu sudah ada di depan matanya hingga seseorang
mendorong ke samping,
“Bughh..”
“Brukkk….” Badan
namja itu jatuh di samping yeoja itu. Darah
mengalir dari kepala bagian belakangnya. Namja itu berhasil menyelamatkan yeoja
itu dari hantaman kayu, tapi kini ia sendiri yang terluka. Yeoja itu terhenyak
memandangi darah yang mengalir dari kepala namja itu, kepala terasa perih. Ia sudah tidak
mampu bertahan hingga ia tak sadarkan diri.
Ahjussi tadi
terlihat ketakutan ketika ia melihat darah mengalir deras dari kepala namja
itu. Ia memberitahu teman-teman yang sedang mengeroyok namja yang lain untuk
pergi. Akhirnya mereka berlari menjauhi TKP. Meninggalkan namja yang masih
bertahan dengan lebam di wajah dan sudut
bibirnya mengeluarkan darah, dia terus memaki mereka. Dia segera menghampiri chingunya dan yeoja
yang sedang tidak sadarkan diri.
“Jong…”
Namja yang
terbaring di jalan membuka matanya, menatap yeoja lalu chingunya menyunggingkan
senyum. Namja yang ditanya hanya terdiam, tak tahu harus menjawab apa. Kini ia
hanya ingin memastikan bahwa kedua orang itu selamat.
“Kamu menyelamatkannya.
Dia kan…?” sahutnya pelan dan parau sebelum ia menutup mata. Namja yang satu,
menggenggam tangan yeoja itu matanya menatap sahabatnya yang pingsan tangan
yang satunya yang meraih ponsel disakunya. Menghubungi nomor ambulance yang memang sudah tertera di
ponsel canggih itu.
***
Luka yeoja dan
namja itu sudah diperban rapi. Sedang namja yang satu dengan perban di
sekeliling kepala baru saja selesai diobati. Gadis itu belum sadarkan diri,
kedua namja itu menungguinya di klinik 24 jam.
“Hhmmm…. Sebaiknya
setelah lukanya kering kamu periksa lagi ke rumah sakit.” Nasehat dokter sambil
menyerahkan resep kepadanya.
“Ne, Uisa
seongsangnim.” Jawabnya tersenyum. Setelah keluar dari ruangan dokter ia
menghampiri chingunya yang duduk di samping yeoja yang masih terbaring lemah.
“Aku pulang dulu,
pasti hyung sudah menungguku. ”
Sahutnya,
Chingunya
mengangguk pelan.
“Aku ikut denganmu.
Aku takut pulang, pasti umma dan appa akan membunuhku, melihatku babak belur
begini.” Ia meraih jaketnya, sebelum keluar ia kembali memandang yeoja cantik
itu lekat.
Wajahnya memang
sempurna, tidak salah jika dia bisa
mencuri hati namja itu.
“Lalu siapa yang
menjaganya ?”
“Kata dokter ia
hanya butuh istirahat. Aku masih tidak berani berhadapan langsung dengannya
jika ia bangun. Apalagi wajahku bengkak begini.” Jawabnya namja itu masih
menatap yeoja itu.
Namja yang berdiri di depan pintu tahu
bagaimana perasaan sahabatnya kepadanya yeoja itu. Karena ia juga sebenarnya
merasakan perasaan yang sama.
Mereka meninggalkan
yeoja itu sendiri di klinik itu. Saat terbangun yeoja itu sedih, tak mendapati
pahlawannya. Setidaknya ia ingin mengucapkan terima kasih. Ia mengingat
samar-samar wajah kedua namja.
Sejak hari itu
mereka mulai saling mengenal. Jika dulu mereka hanya memandang yeoja itu dari
jauh. Sekarang mereka bisa bercanda dan tertawa bersama. Malam itu meninggalkan
banyak hal dan bahkan mampu mengubah takdir mereka.
A Good’Bye
·
Lee
Taemin
·
Choi
Jinri (sulli)
·
Kim Jong In (kai)
·
Lee
jin Ki
·
Kim
Ki Bum
·
Choi
minho
·
Kim
jonghyun
·
Kwon
yuri
·
Park
shin young (luna)
·
Shin
Se kyung
·
Lee
dong hae
·
Jung
yoogeun