Friday, October 26, 2012

A 'Good'Bye (Prolog)


Prolog

Seorang yeoja berjalan sendirian di tengah malam, tujuannya yang pasti ingin pulang. Terlihat jelas wajahnya cemas, melihat dia berada di kawasan paling rawan di daerah Myeongdong. Ia memasukkan tangannya ke dalam saku mantelnya. Bodoh memang karena ia tidak minta dijemput oleh supirnya. Ia terlalu asyik membaca di perpustakaan tua, sehingga lupa waktu. Kini sudah hampir jam 12 malam. Appa dan Ummanya sedang ke Busan, sedangkan ia lupa membawa ponsel. Beberapa ahjussi mendekatinya sepertinya mereka tidak sadarkan diri,
“Agashi, annyeonghaseyo.” Sapa mereka dengan muka menyeringai membuat yeoja itu semakin takut. Ia mempercepat langkahnya lalu berbelok mencari jalan raya. Ia terbelalak, yang dia dapati malah jalan buntu.
“Aigoo…” ia mendesah khawatir. 4 ahjussi yang sedari tadi mengikutinya tersenyum licik memandangi yeoja cantik yang berpostur tinggi semampai walau umurnya masih terbilang sangat muda.
“Mianhe ahjussi, apa yang anda mau? Aku hanya seorang pelajar.” Ucapnya gemetar, ia sekarang sudah sangat ketakutan. Ahjussi mabuk itu malah tambah mendekat kepadanya.
“Agashi neomu yeppo. Maukan menemani kami minum ?”
Yeoja itu tidak tahu harus berbuat apa. Biasanya ia hidup dalam kenyamanan, tapi tidak malam ini. Kakinya bergetar tak mampu berjalan lagi.
Ahjussi-ahjussi tadi mulai mengepungnya, ia membungkukkan badan berusaha melindingi dirirnya, saat tangan kasar itu mulai menyentuh mantelnya dengan sekuat tenaga ia berteriak.
“Andweee… Jeball”
***
Kedua namja yang kelihatannya masih remaja keluar dari sebuah tempat karaoke. Mereka  sedang senang, habis merayakan sesuatu. Namun, tidak dipungkiri mereka kelelahan. Sesekali mereka menggerakkan badan membentuk gelombang dan saling membalas gerakan satu sama lain. Malam ini sepertinya kurang kendaraan, mereka berniat berjalan kaki hingga pemberhentian bis di ujung jalan. Namun, suara seorang yeoja memecah malam sunyi, membuat mereka reflex berlari ke arah gang kecil. Mereka mendapati beberapa ahjussi sedang mengerumuni sesuatu, tepatnya seseorang.
Namja yang lebih tinggi maju duluan menghempaskan sebuah kepalan ke salah seorang ahjussi mabuk itu. Sontak mengagetkan ahjussi yang lain, tak terima dipukul mereka malah mengalihkan perhatian kepada namja manis itu, yang sepertinya memang jago berkelahi. Sedang namja yang lebih putih dan kecil mengambil kayu bekas untuk maju membantu temannya. Maklum ia butuh senjata, tidak seperti temannya yang memang pemegang sabuk hitam taekwondo.  Pertarungan itu terlihat sangat seru, dua namja umur 18 tahun lawan 4 orang ahjussi yang sedang kehilangan akal sehat. Yeoja yang tadi hanya meringkuk kini berani mengangkat wajahnya, ia mengumpulkan keberanian untuk berdiri. Ingin rasa ia melarikan diri tapi kakinya belum kuat untuk berjalan apalagi berlari.
“Yahh,, agashi.. lari dari sini… ppallliii…” seru kedua namja itu hampir bersamaan. Wajah mereka terlihat sama di cahaya remang-remang. Yeoja itu menangis dari tadi, ia takut sangat takut.
‘Larilah... Lapor polisi segera.” Suara itu terdengar sangat kewalahan. Yeoja itu segera berlari, namun sebuah tangan menahannya. Ia berusaha melepaskan genggaman orang itu, hingga ia terhempas jatuh di jalan. Kepalanya membentur aspal tapi ia masih sadarkan diri. Lututnya sakit, ia coba berdiri walau badannya terasa perih terutama kepalanya. Ia berusaha berlari lagi. Ahjussi yang tadi mengejarnya meraih sebuah kayu mengayunkan ke arah yeoja itu. Yeoja itu tidak sadar,
“Awass…” suara itu memperingatkannya, kayu itu sudah ada di depan matanya hingga seseorang mendorong ke samping,
“Bughh..”
“Brukkk….” Badan namja itu jatuh di samping yeoja itu. Darah mengalir dari kepala bagian belakangnya. Namja itu berhasil menyelamatkan yeoja itu dari hantaman kayu, tapi kini ia sendiri yang terluka. Yeoja itu terhenyak memandangi darah yang mengalir dari kepala namja itu, kepala terasa perih. Ia sudah tidak mampu bertahan hingga ia tak sadarkan diri.
Ahjussi tadi terlihat ketakutan ketika ia melihat darah mengalir deras dari kepala namja itu. Ia memberitahu teman-teman yang sedang mengeroyok namja yang lain untuk pergi. Akhirnya mereka berlari menjauhi TKP. Meninggalkan namja yang masih bertahan dengan lebam di wajah dan sudut  bibirnya mengeluarkan darah, dia terus memaki mereka.  Dia segera menghampiri chingunya dan yeoja yang sedang tidak sadarkan diri.
“Jong…”
Namja yang terbaring di jalan membuka matanya, menatap yeoja lalu chingunya menyunggingkan senyum. Namja yang ditanya hanya terdiam, tak tahu harus menjawab apa. Kini ia hanya ingin memastikan bahwa kedua orang itu selamat.
“Kamu menyelamatkannya. Dia kan…?” sahutnya pelan dan parau sebelum ia menutup mata. Namja yang satu, menggenggam tangan yeoja itu matanya menatap sahabatnya yang pingsan tangan yang satunya yang meraih ponsel disakunya. Menghubungi  nomor ambulance yang memang sudah tertera di ponsel canggih itu.
***
Luka yeoja dan namja itu sudah diperban rapi. Sedang namja yang satu dengan perban di sekeliling kepala baru saja selesai diobati. Gadis itu belum sadarkan diri, kedua namja itu menungguinya di klinik 24 jam. 
“Hhmmm…. Sebaiknya setelah lukanya kering kamu periksa lagi ke rumah sakit.” Nasehat dokter sambil menyerahkan resep kepadanya.
“Ne, Uisa seongsangnim.” Jawabnya tersenyum. Setelah keluar dari ruangan dokter ia menghampiri chingunya yang duduk di samping yeoja yang masih terbaring lemah.
“Aku pulang dulu, pasti  hyung sudah menungguku. ” Sahutnya,
Chingunya mengangguk pelan.
“Aku ikut denganmu. Aku takut pulang, pasti umma dan appa akan membunuhku, melihatku babak belur begini.” Ia meraih jaketnya, sebelum keluar ia kembali memandang yeoja cantik itu lekat.
Wajahnya memang sempurna, tidak salah  jika dia bisa mencuri hati namja itu.
“Lalu siapa yang menjaganya ?”
“Kata dokter ia hanya butuh istirahat. Aku masih tidak berani berhadapan langsung dengannya jika ia bangun. Apalagi wajahku bengkak begini.” Jawabnya namja itu masih menatap yeoja itu.
 Namja yang berdiri di depan pintu tahu bagaimana perasaan sahabatnya kepadanya yeoja itu. Karena ia juga sebenarnya merasakan perasaan yang sama.
Mereka meninggalkan yeoja itu sendiri di klinik itu. Saat terbangun yeoja itu sedih, tak mendapati pahlawannya. Setidaknya ia ingin mengucapkan terima kasih. Ia mengingat samar-samar wajah kedua namja.

Sejak hari itu mereka mulai saling mengenal. Jika dulu mereka hanya memandang yeoja itu dari jauh. Sekarang mereka bisa bercanda dan tertawa bersama. Malam itu meninggalkan banyak hal dan bahkan mampu mengubah takdir mereka.



A Good’Bye

·         Lee Taemin
·         Choi Jinri (sulli)
·         Kim Jong In (kai)
·         Lee jin Ki
·         Kim Ki Bum
·         Choi minho
·         Kim jonghyun
·         Kwon yuri
·         Park shin young (luna)
·         Shin Se kyung
·         Lee dong hae
·         Jung yoogeun