Saturday, September 15, 2012

1# FanFic : The Different Way

The Different Way

Taelli FF

Cast :
Lee Tae Min
Choi Jin Ri : Sulli
Krystal
Kim Jong In : Kai

Saat ini adalah saat yang paling berat untuk Sulli dan Taemin. Menerima bahwa mereka harus berada di jalan yang sejajar, namun sejauh apapun mereka melangkah mereka tidak mungkin bisa menemukan titik yang sama. Mereka tidak berani saling menengok satu sama lain, hanya memandang lurus ke depan.
Dia hanya diam memandangi yeoja yang terlihat bahagia dengan senyum yang selalu terbentuk di bibirnya saat dia memasang sebuah cincin, entah itu cincin yang keberapa yang dicobanya. Yeoja itu mengangkat tangannya sejajar dengan matanya, lalu menggeleng tidak puas. Yeoja itu juga sibuk dengan pikirannya sendiri, saat pegawai itu menanyakan namja yang sedang duduk dan memandanginya. Ia memalingkan wajah kepada namja itu, tersenyum padanya.
“Taemin-ssi, ayo jangan diam saja. Aku bingung tidak tahu mau pilih yang mana, lagipula kamu disini untuk membantuku, bukan !” Ucapnya dengan wajah memelas dan bibir yang dikerucutkan.
Taemin mengangguk pelan, sesaat kemudian ia bangkit ketika ia merasa ponselnya bergetar.  Ia mengambil ponsel dari sakunya dan membaca sebuah pesan masuk.
From : Crystal Jung
           Oppa, ottokhae ? Aku mau mati saja rasanya… Jeball oppa. Aku tidak tahan lagi dengan semua ini.
Taemin tidak tahu ingin membalas apa, setelah tertegun sejenak ia mulai mengetik.
To     : Crystal Jung
            Mianhe, Krys.. jangan pernah berpikiran buruk. Aku belum mampu memberitahu mereka. Ini akan menyakitkan banyak orang dan aku perlu memastikan sesuatu, sebelum mengambil keputusan..
Rasa perih kembali ia rasakan saat mendengar suara Sulli memanggilnya.
“Taemin-ssi, palli..” seru Sulli pelan, Taemin mungkin belum terbiasa lagi dengan panggilan itu.
“Uhm.. ne” jawabnya, ia segera berjalan mendekati Sulli yang tengah duduk di depan etalase khusus cincin. Ia duduk dengan canggung di sebelah Sulli. Sulli memandangi wajah namja itu, selain terlihat sangat lelah matanya juga tidak bercahaya seperti dulu.
‘Mengapa ia terlihat tidak bersemangat, apa dia sedang bad mood? Bukan, dia bukan sedang tidak mood, tapi matanya menunjukkan kesedihan. Tapi untuk siapa?’ batin Sulli mulai bertanya-tanya. Rasa penasaran membuatnya berani bertanya,
“Kenapa? Apa ada masalah?”
Taemin terbelalak mendengar pertanyaan tiba-tiba Sulli. ia semestinya sadar, ia tidak boleh menunjukkan kesedihan di depan Sulli apalagi tidak kurang sebulan lagi adalah hari yang paling bahagia untuk Sulli.
‘Haruskah aku mengikuti keinginan Krystal dan menghancurkan semuanya sekarang?’ tanya Taemin pada hatinya semakin dilema.
Taemin mengangkat wajahnya dan menatap Sulli yang terlihat bahagia bercanda dengan pegawai toko. Saat Sulli sadar bahwa Taemin memandanginya, ia menoleh menatap namja itu. Taemin akhirnya menyadari sesuatu,
‘Aku tidak boleh egois dan aku takut menyakitinya lagi, Krystal. Dia sudah bahagia sekarang, tidak mungkin aku mencabut kebahagiaannya. Mianhe Krystal..’ batin Taemin. Taemin sebenarnya masih memiliki harapan, inilah kesempatan untuk kembali memiliki kembali orang yang dicintainya. Tapi di sisi lain dia tidak bisa berbuat apa-apa.
“Gwengchana ?”
Taemin memasang senyum palsu, ada perasaan sedih yang  amat mendalam mendengar Sulli khawatir padanya. Sudah lama rasanya ia tidak mendengar suara khawatir yeoja itu.
“Gwenchana. Ini hari yang menyenangkan, bukan? aku hanya mengantuk.” Jawab Taemin sambil pura-pura menguap. Tapi setetes airmata jatuh membasahi pipinya. Membayangkan hari bahagia untuk Sulli semakin dekat, semakin membuatnya sadar bahwa dia semakin jauh dari cintanya.
“Hahaha.. Aishh,,, aku pasti sangat mengantuk sampai meneteskan airmata.” Ujarnya lagi sambil menghapus airmata di pipinya.
Sulli khawatir,
‘Pasti dia sangat kelelahan sekarang.’
‘Oppa, apakah ini yang terbaik untuk kita? Haruskah seperti ini?’ batinnya berusaha keras mencari jawaban untuk pertanyaan itu.
Taemin mencoba tersenyum, senyum hangat yang menular. Sulli melihat senyum itu ikut tersenyum, hanya senyum itu yang mampu membuatnya merasa bahagia dan menderita di saat yang sama. Dan keduanya pun menatap cincin-cincin di hadapan mereka, Sulli tidak tahu sampai kapan ia bisa berpura-pura, melihatnya seperti ini kembali membuka luka lamanya.
Taemin mengambil salah satu box yang berisi dua cincin mengangkatnya lalu memandanginya dengan seksama. Kini Sulli yang tidak berminat dengan cincin-cincin itu.
‘Aku pernah bermimpi seperti ini, Oppa dan aku pergi membeli dan memilih cincin. Akhirnya menjadi kenyataan memang, tapi mengapa ini membuatku semakin sedih…..’ konflik batin Sulli terhenti saat Taemin menunjukkan sebuah cincin.
“Sulli-ssi, ini ini cocokmu.  Pasti akan sangat cantik jika melingkar di jarimu.” Taemin memberikan sebuah cincin platinum dengan permata sapphire blue di tengah dan dikelilingi permata berukuran lebih kecil. Sulli memandangi cincin yang kini ada ditelapak tangannya. 
“Taemin-ssi, apa kamu tahu makna batu sapphire? Sapphire melambangkan kesetiaan yang sedalam lautan. Tapi aku tidak tahu, apakah aku bisa setia selamanya atau tidak.”  Ucap Sulli kemudian tertawa garing dan mengembalikan cincin itu ke tempatnya.
“Becandaanmu tidak lucu. Kamu tidak boleh berkata seperti itu. Apalagi di saat seperti sekarang.” Timpal Taemin, sedikit jengkel dengan ucapan Sulli. Dan Sulli hanya tersenyum tersenyum kecut melihat respon Taemin.
Sulli sangat menyukai batu sapphire dan Taemin hanya tahu sebatas itu tanpa tahu maknanya. Dia tidak tahu Sulli akan selalu setia, bahkan ia tidak tahu cara menghilangkan rasa setia di hatinya. Sulli sudah terkena kutukan bunga matahari, dia tidak bisa berpaling ke lain hati. Sedangkan Taemin adalah pengagum bunga matahari.
Sunyi lagi, mereka kembali mengamati cincin sesekali Taemin memotret cincin itu lalu mengupload melalui kakao talknya, tapi tak ada satupun yang direspon. Sulli tidak tahan dengan pemandangan yang dilihatnya sekarang, melihat Taemin berusaha mencari cincin pernikahan yang paling cantik dan terbaik untuknya bahkan dia sangat teliti sampai menanyakan segala sesuatu hingga detilnya. Dia merasa  perih di hatinya.
‘Dia selalu begitu, bertanya hingga detil, padahal dia mungkin tidak mengerti sama sekali tentang perhiasaan.’ Batin Sulli, dia mengenal baik karakter namja disampingnya itu.
Mereka berdua sedang mencari cincin pernikahan. Pernikahan  yang mungkin dalam lubuk hati mereka berdua tidak bisa mereka setujui. Tapi tidak ada yang berniat menentangnya apalagi membatalkannya. Karena Taemin sebagai pria bahkan sudah menyerah untuk merebut cintanya, cinta pertama dan cinta terakhirnya. Ini semua demi kebahagiaan Sulli pikirnya. Pernikahan yang juga menjadi jembatan untuk memperbaiki kondisi perusahaan tempat Taemin bekerja.
Mata Sulli tertuju pada satu cincin dalam sebuah box berwarna biru langit. Ia meraihnya lalu memeganginya dan hanya memandangi sambil dimainkan di jarinya. Ia tidak sadar Taemin juga memandangi cincin yang sama.
« Sulli-ssi, apa kamu sudah menemukan yang sesuai dengan keinginanmu ? » tanya Taemin, membuyarkan lamunan Sulli yang masih menggenggam cincin itu.
Cincin pernikahan terlihat hanya satu tapi cincin itu terdiri dari dua cincin yang menyatu dengan ukuran yang berbeda, hanya memiliki kesan timbul membentuk tanda hati, tanda hati yang tercetak oleh batu sapphire blue tipis. Bila dipisahkan masing-masing cincin memiliki separuh hati yang sama. Kesannya memang sangat sederhana, apalagi untuknya. Tapi, kesan sederhana cincin itu sesuai untuk Taemin, belum lagi batu sapphire yang sesuai untuk Sulli.
« Sulli-ssi... ! » panggil Taemin lagi.
« Engg… ? » Sulli mengalihkan perhatiannya dari cintin beralih ke Taemin.
« Apa kamu suka yang itu ? » tanya Taemin sambil menunjuk cincin yang dipegang Sulli.
Sulli memandang kembali cincin itu.
« N-ne…. Uhhmmm,, Aa-niya…. » jawab Sulli terbata-bata.
« Aku…. » Sulli terdiam lalu segera mengembalikan cincin ke dalam box menyimpannya di atas etalase tepat di depan Taemin.
Taemin mengernyitkan alisnya mengamati Sulli yang terlihat lesu,
‘Tidak biasanya dia seperti ini, bukankah dia yeoja yang selalu tahu tentang  keinginannya.’
Kini  Sulli melihat cincin dalam box yang dipegang Taemin dan mengeluarkannya. Membuat Taemin agak terkejut, lalu ia berusaha bersikap senormal mungkin.
“Aa, ne. Sulli-ssi bagaimana dengan yang ini?” tanyanya pada Sulli yang sudah memandangi cincin yang dipilih Taemin.
Cincin yang dipegang Sulli berhiaskan intan yang agak berukuran besar ditengah dan dikelilingi intan-intan kecil disekelilingnya dan membentuk ukiran yang cantik. Sedangkan cincin yang berukuran lebih besar di dalam box memiliki ukiran yang sama tampak batu intan ditengahnya.
Sulli seakan tertarik dengan cincin ini, dia mulai bertanya detilnya pada pegawai toko itu. Sedangkan Taemin memandangi cincin dalam box biru langit itu. Dia menyukai cincin itu, sangat sederhana walau hanya beraksen timbul batu sapphire tapi membuat cincin bermagnet itu terlihat spesial.
‘Jika dia bisa memilih, dia pasti memilih itu. Tapi ini semua untuk Sulli dan sepertinya Sulli tidak suka. Aku lupa, selera kami tidak akan pernah sama, karena kami memiliki hidup yang berbeda.’
Sulli mencoba cincin yang berbatu intan itu di jari manisnya.
Pas. Cincin itu kini terlingkar indah di jari manisnya dan menambah kecantikan jari-jarinya  yang lentik.
« Huaahh, agashi neomu areumdaum. Akhirnya cincin itu menemukan pemiliknya. » ujar pegawai toko itu sambil menyatukan kedua tangannya.
« Aku suka. Ini saja, Taemin-ssi.. bagaimana denganmu.. » ujar Sulli semangat namun suaranya melemah saat ingat sesuatu yang mampu membuatnya kehilangan napasnya.
« Maksudku… » tambah Sulli yang merasa canggung pada Taemin.
Taemin tertunduk lalu mengalihkan pandangannya pada pegawai toko, yang terlihat berseri mungkin karena berhasil menjual cincin yang termasuk paling mahal di toko itu. Wajahnya berseri walau terlihat sedikit chubby, pegawai itu sepertinya sedang mengandung. Melihatnya membuat Taemin ingat akan sosok Krystal. Ia pun tersadar bahwa dia harus mencari jalan keluar untuk masalah Krystal.
“Ahjussi, anda tidak ingin mencoba cincinnya?” tanya pegawai itu lalu menyodorkan dengan sopan cincin yang bermotif sama namun berukuran lebih besar dari yang dipakai Sulli. Taemin terkejut mendengar ucapan pegawai toko.
“T-Tttaa—pppii..” dia terbata, merespon anjuran pegawai itu tangannya menolak dengan halus.
« Coba saja dulu. » potong Sulli yang kini tertunduk, rambutnya yang panjang menutupi matanya yang sudah berkaca-kaca.
Taemin menyerah, dia tidak akan bisa menolak permintaan Sulli, entah ada sihir apa dalam setiap perkataan Sulli hingga mampu menggerakkan hati Taemin untuk melaksanakan setiap permintaannya.
Taemin memasang cincin itu di jari manisnya, cincin itu seakan mengandung beban lebih dari 50kg, membuatnya gemetar. Dia memang tidak pantas memakai cincin itu. Karena dia hanya seorang pecundang.
« Sepertinya cincin ahjussi agak longgar… apa harus diperkecil ? » tanya pegawai toko itu dengan ramah, ia berusaha membuat suasana kikuk ini mencair.
Taemin segera membuka cincin yang tidak sesuai dengan ukuran jari manisnya dan meletakkan kembali ke dalam boxnya.
« Kami bisa memperkecil sesuai dengan ukuran ahjussi. » terang pegawai itu pada pasangan itu, tapi tidak tahu yang menyahut.
« Tidak usah, agashi. Menurutku itu sudah sesuai. Nanti dia akan mengukurnya sendiri. » jawab Taemin memecah kebisuan diantara keduanya, membuat pegawai itu kebingungan, tapi ia tetap mengiyakan kemauan Taemin.
Sulli tertunduk sejenak, lalu ia melepas cincin yang dipakainya. Taemin mengambil gambar kedua cincin itu lalu menguploadnya lagi.
« Aku pilih yang ini, tolong dipersiapkan semuanya. » ucap Sulli lalu tersenyum hingga matanya membentuk bulan sabit. Sesaat setelahnya, pegawai meninggalkan mereka berdua dalam keheningan yang dalam, di toko perhiasaan esklusif dengan pegawai yang tetap melanjutkan kegiatan masing-masing.
‘Lebih baik tadi aku datang ke sini sendiri. Akan lebih mudah untukku. Aku terlalu lama membohongi diriku sendiri, membohongi semua orang termasuk dia. Aku tidak akan pernah bisa melupakannya.’ Batin Sulli yang semakin tertunduk menahan semua emosi di dalam dirinya agar tidak nampak di depan Taemin.
Taemin menoleh ke arah Sulli, ia tidak tahu apa yang terjadi pada yeoja ini. Biasanya dia akan bertanya, tapi kali ini dia hanya bisa diam. Tidak ada yang pernah bisa menebak hati Sulli, termasuk dirinya.
Taemin kini menyandarkan badannya, menghela napas panjang. Ia hanya bisa menunggu Sulli bicara atau setidaknya menemukan bahan pembicaraan yang mampu menghilangkan suasana canggung seperti ini. Tapi, dia tidak bisa menemukan apapun di tengah serpihan luka yang berserakan di hati dan pikirannya.
‘Inilah akhir semuanya. Memang harus berakhir seperti ini, kita tidak pernah berjodoh. Benang merah yang dulu terlihat diantara kelingking kita hanyalah sebuah ilusi. Bahwa nyatanya benang merah di kelingking kita tidak pernah saling terhubung.’ Batin Taemin mencoba bijak pada dirinya sendiri.
 Ia mencoba melirik Sulli yang kini menatap smartpad-nya. Ia bisa melihat dengan jelas Sulli sedang memandangi lekat fotonya dengan seorang yang tidak asing baginya. Namja berambut hitam dengan senyum khasnya. Mereka terlihat serasi dengan konsep foto glamor, foto pertunangan mereka.  Ia menemukan jawaban untuk Krystal, saat Sulli menyentuh layar pad-nya.
‘Mianhe Krys.. Jeongmal Mianhe. Aku tidak bisa menjalankan tugasku… Mianhe, Krys.’ Batin Taemin membayangkan wajah Krystal yang sekarang pasti sedang terpuruk.
‘Sulli mencintainya dan rindu padanya. Sedangkan aku tahu dia mencintainya melebihi apapun.’ Batin Taemin ia kini membenamkan wajahnya dalam telapak tangannya.
Sulli memutar foto dalam pad-nya, mencari sebuah foto di sebuah taman yang agak kabur karena tidak focus, dia dengan seorang namja berambut coklat dan keduanya sedang tersenyum pada kamera, keduanya masih terlihat seperti anak-anak. Namja itu bukan namja yang dilihat Taemin sebelumnya. Setetes airmata jatuh membasahi pad-nya membuat layar sensitifnya memperbesar foto itu. Wajah namja itu semakin jelas di mata Sulli yang mengabur karena air mata.
Saat keduanya sedang berperang dengan batinnya masing-masing. Pegawai yang sedari tadi melayani mereka kembali membawa beberapa dokumen dan ia menyerahkan sebuah kertas dan pena pada Sulli kembali terlihat tanpa beban. Segera ia matikan pad-nya.
“Mungkin anda ingin mengukir nama di dalam cincinnya, silahkan tulis di sini agashi.”
Tawar pegawai itu ramah.
“Ne, Ghamsahamnida.” Sulli mengambil pena dan mulai menulis di kertas yang sudah disediakan.
Pengantin Wanita          : Choi Jin Ri
Pengantin Pria                :
Sulli berhenti menulis, airmatanya menetes lagi. Airmatanya akan mulai terbentuk saat dia ada disekitarnya. Semenjak namja disebelahnya masuk ke dalam toko ini. Mungkin sangat mudah untuk Sulli berakting di depan orang lain. Tapi  selalu tampak bahagia dan baik-baik saja di depannya adalah peran yang paling susah yang pernah ia perankan. Berusaha ceria di depan namja yang sampai sekarang masih menjadi mataharinya adalah hal yang paling mustahil baginya.
Sulli mulai menulis dan membentuk kata Lee-Tae-Min. Itulah kata yang ia tulis di atas angin. Karena dia tidak mungkin menuliskan nama itu di kertas yang basah oleh tetes airmatanya.
Taemin melihat airmata Sulli, tapi ia tidak bisa membaca airmata apa itu. Ia mengintip apa yang sedang Sulli tulis. Kertas yang agak basah itu diambilnya begitupula dengan penanya. Dia tidak mengerti makna airmata Sulli, entah itu airmata haru atau airmata sedih. Dia tidak tahu mengapa ia merasa sakit melihat airmata itu, tapi dia tetap menuliskan sebuah nama untuk mengisi kolom pengantin pria yang masih kosong.
Pengantin Wanita          : Choi Jin Ri
Pengantin Pria                : Kim Jong In
Choi Sulli seorang artis muda dengan kekayaan yang melimpah tidak pernah menyangka hubungannya dengan Taemin akan berakhir seperti ini. Saat Sulli mencaci dan menghinanya dia hanya diam tak menjawab apalagi membalasnya. Keegoisan Sulli menutup mata hatinya, hingga ia memutuskan hubungan mereka 3 tahun lalu.
March 31 2009
« Aku benci padamu ! Kamu tidak pantas untukku.. »
« Bahkan teman-temanku di Amerika pulang untuk merayakan ulangtahunku. Sedangkan kamu… entah dimana… kita memang berbeda… lebih baik kita akhiri hubungan ini, Oppa..! » amarah Sulli meledak saat Taemin datang menemuinya 2 hari setelah hari ulangtahunnya.
Taemin hanya diam tak bisa berkata apa-apa.
March 29 2011
Hari ini Taemin hadir di pesta Ulangtahun Sulli, yang tidak pernah sekalipun ia hadiri dulu. Sulli terlihat bahagia bergandengan dengan orang yang sangat Taemin kenal, Jong In.
“Kami akan mengumumkan, bahwa hari ini Choi Jin Ri dan Kim Jong In akan meresmikan hubungan mereka dalam ikatan pertunangan.”
Semua bersorak ikut berbahagia. Taemin menjadi teman pertama yang mengucapkan selamat untuk keduanya. Taemin dan Sulli hanya saling tersenyum, meluapkan rasa bahagia. Walau di hati mereka, tertusuk ribuan duri kesedihan.
Taemin dan Sulli seakan tidak pernah benar-benar berpisah, mereka selalu ada di sekitar masing-masing. Taemin membantu Jong In mendekati Sulli agar Jong In bisa membahagiakan Sulli. Hal yang tidak pernah bisa dilakukannya dulu, sedangkan Sulli memilih Jong In agar ia bisa tetap melihat Taemin dan hanya itu membuatnya bahagia.

Taemin hanya anak seorang nelayan yang bekerja sambilan sebagai backup dancer, ia bersahabat dengan Jong In yang disayanginya bahkan melebihi dirinya sendiri.
March 28 2009
Taemin berlari di tengah hujan pertama setelah musim salju malam itu, 30 menit lagi hari akan berganti. Ia basah kuyup sampai di rumah megah kediaman keluarga Kim. Dia berlutut dan memohon kepada mereka.
“Ahjussi, tolong bantu appa saya. Dia harus dioperasi hari ini juga. Saya butuh bantuan anda. Pinjami saya uang, saya akan membayarnya seumur hidup saya. Hanya anda yang bisa saya mintai tolong.. Tolong Ahjussi..”  ucap Taemin bergetar karena kedinginan .
Umma Jong In merangkul Taemin, saat itupun appa Jong In bersedia membantu Taemin. Operasinya appa Taemin berhasil.
Tidak ada yang bisa dilakukannya untuk membalas budi baik keluarga Kim hingga ujian terbesar datang saat Jong In pulang dari studinya di Amerika. Dia mengatakan bahwa ia jatuh cinta pada Sulli dan menyuruh Taemin membantunya mendapatkan hati Sulli karena mereka kuliah di universitas yang sama. Setelah lulus Taemin bekerja keras membantu perusahaan Kim keluar dari krisis. Ternyata dia harus membalas kebaikan keuarga Kim dengan hatinya sendiri. Dan dia tidak keberatan dengan hal itu.
Sulli dan Taemin berperan dengan sangat baik, menunjukkan bahwa masalah lalu mereka sudah berakhir tanpa masalah di depan semua orang. Sulli memang aktris hebat nan cantik dengan senyum dan eye smile-nya saja mampu menyembunyikan hatinya yang sebenarnya sudah tidak berbentuk lagi semenjak melepas mataharinya. Taemin bukan actor, tapi dia bisa tetap menjadi Taemin yang ceria dan bersemangat, karena kini Sulli sudah menjadi matahari bagi orang lain bahkan kini ia sudah menjelma menjadi sesuatu yang lebih indah dari bunga matahari.
Taemin menulis dengan tepat, dengan ejaan yang benar. Namja yang seharusnya menemani tunangannya membeli cincin pernikahan, malah menyuruh sahabatnya menggantikan tugasnya untuk sementara waktu.  Jong In membalas pesan kakao talk  Taemin setelah rapatnya selesai.
Just-Jongin          : Cincin itu sempurna, Taeminie… kekeke aku tidak sabar ingin memakainya.. jinjja…
Just-Jongin          : Gomawo, jeongmal gomawo.. sampaikan salamku untuk JinRi. Bilang padanya jangan terlalu sering mematikan ponsel dan pad-nya. Aku susah menghubunginya dari London T.T
Just-Jongin          : Bisa sampaikan salamku dan bilang padanya bahwa aku sangat-sangat mencintai Choi Sulli…
Taemin membaca pesan beruntun dari Jong In lalu menunjukkan pesan Jong In pada Sulli. Sulli terkekeh membaca pesan tunangannya. Nampak bahagia, Mungkin hati Krystal akan semakin hancur membaca pesan Jong In. Krystal tidak boleh menghalangi keduanya mendapatkan kebahagiaan, karena baik dia maupun Krystal adalah masa lalu yang sebaiknya tidak muncul di masa depan Jong In dan Sulli. Karena dia tidak mungkin menarik mundur hati Jong In yang sudah diberikan hanya untuk Sulli. Dan dia tidak mau melihat Sulli menderita untuk kesekian kalinya, yeoja itu dan Jong In pantas mendapatkan hal yang terbaik di hidup mereka. Karena Sulli dan Jong In adalah dua dari sedikit hal terbaik yang pernah ada di hidup Lee Tae Min.
Sulli dan Taemin masih berada di dalam toko perhiasaan. Cincinnya sudah terpilih, saatnya perpisahan bagi keduanya. Sulli mengulurkan tangan pada Taemin. Taemin mengulurkan tangannya dan menyambut tangan Sulli yang dingin. Yup, ini akhirnya.
“Gomawo, Taemin-ssi. Jeongmal Gomawo atas segalanya. Aku senang berkenalan denganmu. Mianhe atas semua kesalahan yang pernah kuperbuat di masa lalu.” Ucap Sulli tegar, ia menyembunyikan airmatanya dengan rapi dengan eye smilenya.
Taemin tersenyum melihat senyum Sulli.
“Nado, Gomawo. Sulli-ssi aku tidak akan pernah memaafkanmu, karena kamu tidak pernah sekalipun berbuat salah padaku.” Dia mengambil jeda sejenak, mencari kata-kata yang tepat..
“Entah kapan kita bisa bertemu lagi, tapi kuharap, pertemuan selanjutnya aku tidak bertemu airmatamu lagi.” Ucap Taemin seadanya serta merta melepas tangan Sulli, dia berbaik membuka pintu toko itu. Sebelum ia keluar ia menoleh ke arah Sulli,
“Anyeonghigaseyo, Ssul.” Ucapnya lalu menutup pintu dan menghilang dari pandangan Sulli yang mulai mengabur. Airmatanya kini jatuh tak tertahankan, membasahi pipinya yang bersemu merah. Isakannya meluluhkan hati semua orang yang ada di toko perhiasaan itu, tak ada yang berani mengganggunya mereka hanya memandangi dengan wajah prihatin. Sulli kini terduduk membenamkan kepalanya di antara kedua kakinya.
“Kajima….” Bisiknya pelan.

Taemin berjalan keluar dari toko perhiasaan terbaik di Seoul. Ia menghembuskan napasnya, saat airmatanya mulai menetes.
“Aku terlalu mencintaimu, Ssul. Hingga aku takut tidak bisa menjagamu dengan baik. Jong In adalah pria yang tepat untukmu.” Gumamnya.  
Dia mengangkat ponselnya dan menghubungi Crystal Jung. Dengan suara bergetar, ia menyapa,
“Krystal, mianhe… aku tidak bisa memberitahu mereka tentang keadaanmu sekarang. Aku tidak bisa membawa Kai padamu. Mereka saling mencintai, kita tidak bisa merusak hubungan mereka. Kamu mencintai Kai, bukan?”
Tangis Krystal semakin menjadi, dia berada di posisi yang sama dengan Taemin sekarang. Dia hanya masa lalu yang tiba-tiba muncul di hadapan Kai 3 bulan lalu.
“Bila kamu msau, aku akan menggantikan tempat Kai. Aku bersedia menjadi apapun untukmu.” tawar Taemin, inilah jawaban masalah Krystal. Membiarkan Jong In hidup bahagia dengan Sulli dan dia mengganti Jong In menjadi appa untuk bayi yang dikandung Krystal.
Di ujung telepon seorang yeoja yang hanya menangis mendengar penjelasan Taemin lalu mengangguk pelan.
‘Mungkin aku tidak bisa sebaik dirinya tapi aku akan berusaha menjagamu sebagaimana Kai kini menjaga bunga matahariku yang dulu.’ batin Taemin, menengadahkan matanya ke atas mencegah airmatanya jatuh lagi.

Mungkin ini menjadi terakhir kalinya mereka bertemu, tapi tidak ada yang bisa menebak masa depan, bahkan tidak ada yang bisa menebak apa yang akan terjadi di detik selanjutnya.


Love is not just about receiving, it’s also about giving
True love can be found even both side in the different way.

No comments:

Post a Comment