The Different Way
Taelli FF
Cast :
Lee Tae Min
Choi Jin Ri : Sulli
Krystal
Kim Jong In : Kai
Saat ini adalah saat yang paling berat untuk Sulli dan
Taemin. Menerima bahwa mereka harus berada di jalan yang sejajar, namun sejauh
apapun mereka melangkah mereka tidak mungkin bisa menemukan titik yang sama.
Mereka tidak berani saling menengok satu sama lain, hanya memandang lurus ke
depan.
Dia hanya diam memandangi yeoja yang terlihat bahagia
dengan senyum yang selalu terbentuk di bibirnya saat dia memasang sebuah
cincin, entah itu cincin yang keberapa yang dicobanya. Yeoja itu mengangkat
tangannya sejajar dengan matanya, lalu menggeleng tidak puas. Yeoja itu juga
sibuk dengan pikirannya sendiri, saat pegawai itu menanyakan namja yang sedang
duduk dan memandanginya. Ia memalingkan wajah kepada namja itu, tersenyum
padanya.
“Taemin-ssi, ayo jangan diam saja. Aku bingung tidak
tahu mau pilih yang mana, lagipula kamu disini untuk membantuku, bukan !”
Ucapnya dengan wajah memelas dan bibir yang dikerucutkan.
Taemin mengangguk pelan, sesaat kemudian ia bangkit ketika
ia merasa ponselnya bergetar. Ia
mengambil ponsel dari sakunya dan membaca sebuah pesan masuk.
From :
Crystal Jung
Oppa, ottokhae ? Aku mau mati saja rasanya… Jeball
oppa. Aku tidak tahan lagi dengan semua ini.
Taemin tidak tahu ingin membalas apa, setelah tertegun
sejenak ia mulai mengetik.
To : Crystal Jung
Mianhe, Krys.. jangan pernah
berpikiran buruk. Aku belum mampu memberitahu mereka. Ini akan menyakitkan
banyak orang dan aku perlu memastikan sesuatu, sebelum mengambil keputusan..
Rasa perih
kembali ia rasakan saat mendengar suara Sulli memanggilnya.
“Taemin-ssi,
palli..” seru Sulli pelan, Taemin mungkin belum terbiasa lagi dengan panggilan
itu.
“Uhm.. ne”
jawabnya, ia segera berjalan mendekati Sulli yang tengah duduk di depan etalase
khusus cincin. Ia duduk dengan canggung di sebelah Sulli. Sulli memandangi
wajah namja itu, selain terlihat sangat lelah matanya juga tidak bercahaya
seperti dulu.
‘Mengapa ia terlihat
tidak bersemangat, apa dia sedang bad mood? Bukan, dia bukan sedang tidak mood,
tapi matanya menunjukkan kesedihan. Tapi untuk siapa?’ batin Sulli mulai bertanya-tanya. Rasa penasaran
membuatnya berani bertanya,
“Kenapa? Apa
ada masalah?”
Taemin
terbelalak mendengar pertanyaan tiba-tiba Sulli. ia semestinya sadar, ia tidak
boleh menunjukkan kesedihan di depan Sulli apalagi tidak kurang sebulan lagi
adalah hari yang paling bahagia untuk Sulli.
‘Haruskah aku
mengikuti keinginan Krystal dan menghancurkan semuanya sekarang?’ tanya Taemin
pada hatinya semakin dilema.
Taemin
mengangkat wajahnya dan menatap Sulli yang terlihat bahagia bercanda dengan
pegawai toko. Saat Sulli sadar bahwa Taemin memandanginya, ia menoleh menatap
namja itu. Taemin akhirnya menyadari sesuatu,
‘Aku tidak boleh egois
dan aku takut menyakitinya lagi, Krystal. Dia sudah bahagia sekarang, tidak
mungkin aku mencabut kebahagiaannya. Mianhe Krystal..’ batin Taemin. Taemin
sebenarnya masih memiliki harapan, inilah kesempatan untuk kembali memiliki
kembali orang yang dicintainya. Tapi di sisi lain dia tidak bisa berbuat apa-apa.
“Gwengchana ?”
Taemin
memasang senyum palsu, ada perasaan sedih yang
amat mendalam mendengar Sulli khawatir padanya. Sudah lama rasanya ia tidak mendengar suara khawatir
yeoja itu.
“Gwenchana. Ini hari yang
menyenangkan, bukan? aku hanya mengantuk.” Jawab Taemin sambil pura-pura
menguap. Tapi setetes airmata jatuh membasahi pipinya. Membayangkan hari
bahagia untuk Sulli semakin dekat, semakin membuatnya sadar bahwa dia semakin
jauh dari cintanya.
“Hahaha.. Aishh,,, aku
pasti sangat mengantuk sampai meneteskan airmata.” Ujarnya lagi sambil
menghapus airmata di pipinya.
Sulli khawatir,
‘Pasti dia sangat
kelelahan sekarang.’
‘Oppa, apakah ini yang
terbaik untuk kita? Haruskah seperti ini?’ batinnya berusaha keras mencari
jawaban untuk pertanyaan itu.
Taemin mencoba tersenyum,
senyum hangat yang menular. Sulli melihat senyum itu ikut tersenyum, hanya
senyum itu yang mampu membuatnya merasa bahagia dan menderita di saat yang
sama. Dan keduanya pun menatap cincin-cincin di hadapan mereka, Sulli tidak
tahu sampai kapan ia bisa berpura-pura, melihatnya seperti ini kembali membuka
luka lamanya.
Taemin mengambil salah
satu box yang berisi dua cincin mengangkatnya lalu memandanginya dengan
seksama. Kini Sulli yang tidak berminat dengan cincin-cincin itu.
‘Aku pernah
bermimpi seperti ini, Oppa dan aku pergi membeli dan memilih cincin. Akhirnya
menjadi kenyataan memang, tapi mengapa ini membuatku semakin sedih…..’ konflik
batin Sulli terhenti saat Taemin menunjukkan sebuah cincin.
“Sulli-ssi,
ini ini cocokmu. Pasti akan sangat cantik jika melingkar di jarimu.” Taemin
memberikan sebuah cincin platinum dengan permata sapphire blue di tengah dan
dikelilingi permata berukuran lebih kecil. Sulli memandangi cincin yang kini
ada ditelapak tangannya.
“Taemin-ssi, apa
kamu tahu makna batu sapphire? Sapphire
melambangkan kesetiaan yang sedalam lautan. Tapi aku tidak tahu, apakah aku
bisa setia selamanya atau tidak.” Ucap
Sulli kemudian tertawa garing dan mengembalikan cincin itu ke tempatnya.
“Becandaanmu tidak lucu.
Kamu tidak boleh berkata seperti itu. Apalagi di saat seperti sekarang.” Timpal Taemin, sedikit jengkel dengan ucapan Sulli. Dan Sulli hanya
tersenyum tersenyum kecut melihat respon Taemin.
Sulli sangat menyukai
batu sapphire dan Taemin hanya tahu sebatas itu tanpa tahu maknanya. Dia tidak
tahu Sulli akan selalu setia, bahkan ia tidak tahu cara menghilangkan rasa
setia di hatinya. Sulli sudah terkena kutukan bunga matahari, dia tidak bisa
berpaling ke lain hati. Sedangkan Taemin adalah pengagum bunga matahari.
Sunyi lagi, mereka
kembali mengamati cincin sesekali Taemin memotret cincin itu lalu mengupload
melalui kakao talknya, tapi tak ada satupun yang direspon. Sulli tidak tahan
dengan pemandangan yang dilihatnya sekarang, melihat Taemin berusaha mencari
cincin pernikahan yang paling cantik dan terbaik untuknya bahkan dia sangat
teliti sampai menanyakan segala sesuatu hingga detilnya. Dia merasa perih di hatinya.
‘Dia selalu begitu,
bertanya hingga detil, padahal dia mungkin tidak mengerti sama sekali tentang
perhiasaan.’ Batin Sulli, dia mengenal baik karakter namja disampingnya itu.
Mereka berdua sedang mencari cincin pernikahan.
Pernikahan yang mungkin dalam lubuk hati
mereka berdua tidak bisa mereka setujui. Tapi tidak ada yang berniat
menentangnya apalagi membatalkannya. Karena Taemin sebagai pria bahkan sudah
menyerah untuk merebut cintanya, cinta pertama dan cinta terakhirnya. Ini semua
demi kebahagiaan Sulli pikirnya. Pernikahan yang juga menjadi jembatan untuk
memperbaiki kondisi perusahaan tempat Taemin bekerja.
Mata Sulli tertuju pada
satu cincin dalam sebuah box berwarna biru langit. Ia meraihnya lalu
memeganginya dan hanya memandangi sambil dimainkan di jarinya. Ia tidak sadar
Taemin juga memandangi cincin yang sama.
« Sulli-ssi, apa
kamu sudah menemukan yang sesuai dengan keinginanmu ? » tanya Taemin,
membuyarkan lamunan Sulli yang masih menggenggam cincin itu.
Cincin
pernikahan terlihat hanya satu tapi cincin itu terdiri dari dua cincin yang
menyatu dengan ukuran yang berbeda, hanya memiliki kesan timbul membentuk tanda
hati, tanda hati yang tercetak oleh batu sapphire blue tipis. Bila dipisahkan masing-masing cincin memiliki separuh
hati yang sama. Kesannya memang sangat sederhana, apalagi untuknya. Tapi, kesan
sederhana cincin itu sesuai untuk Taemin, belum lagi batu sapphire yang sesuai
untuk Sulli.
« Sulli-ssi... ! »
panggil Taemin lagi.
« Engg… ? »
Sulli mengalihkan perhatiannya dari cintin beralih ke Taemin.
« Apa
kamu suka yang itu ? » tanya Taemin sambil menunjuk cincin yang
dipegang Sulli.
Sulli
memandang kembali cincin itu.
« N-ne….
Uhhmmm,, Aa-niya…. » jawab Sulli terbata-bata.
« Aku…. »
Sulli terdiam lalu segera mengembalikan cincin ke dalam box menyimpannya di
atas etalase tepat di depan Taemin.
Taemin
mengernyitkan alisnya mengamati Sulli yang terlihat lesu,
‘Tidak
biasanya dia seperti ini, bukankah dia yeoja yang selalu tahu tentang keinginannya.’
Kini Sulli melihat cincin dalam box yang dipegang
Taemin dan mengeluarkannya. Membuat Taemin agak terkejut, lalu ia berusaha
bersikap senormal mungkin.
“Aa, ne.
Sulli-ssi bagaimana dengan yang ini?” tanyanya pada Sulli yang sudah memandangi
cincin yang dipilih Taemin.
Cincin yang
dipegang Sulli berhiaskan intan yang agak berukuran besar ditengah dan
dikelilingi intan-intan kecil disekelilingnya dan membentuk ukiran yang cantik.
Sedangkan cincin yang berukuran lebih besar di dalam box memiliki ukiran yang
sama tampak batu intan ditengahnya.
Sulli seakan
tertarik dengan cincin ini, dia mulai bertanya detilnya pada pegawai toko itu.
Sedangkan Taemin memandangi cincin dalam box biru langit itu. Dia menyukai
cincin itu, sangat sederhana walau hanya beraksen timbul batu sapphire tapi membuat
cincin bermagnet itu terlihat spesial.
‘Jika dia
bisa memilih, dia pasti memilih itu. Tapi ini semua untuk Sulli dan sepertinya
Sulli tidak suka. Aku lupa, selera kami tidak akan pernah sama, karena kami
memiliki hidup yang berbeda.’
Sulli mencoba
cincin yang berbatu intan itu di jari manisnya.
Pas. Cincin
itu kini terlingkar indah di jari manisnya dan menambah kecantikan
jari-jarinya yang lentik.
« Huaahh,
agashi neomu areumdaum. Akhirnya cincin itu menemukan pemiliknya. » ujar
pegawai toko itu sambil menyatukan kedua tangannya.
« Aku
suka. Ini saja, Taemin-ssi.. bagaimana denganmu.. » ujar Sulli semangat
namun suaranya melemah saat ingat sesuatu yang mampu membuatnya kehilangan
napasnya.
« Maksudku… »
tambah Sulli yang merasa canggung pada Taemin.
Taemin tertunduk lalu
mengalihkan pandangannya pada pegawai toko, yang terlihat berseri mungkin
karena berhasil menjual cincin yang termasuk paling mahal di toko itu. Wajahnya
berseri walau terlihat sedikit chubby, pegawai itu sepertinya sedang
mengandung. Melihatnya membuat Taemin ingat akan sosok Krystal. Ia pun tersadar
bahwa dia harus mencari jalan keluar untuk masalah Krystal.
“Ahjussi, anda tidak
ingin mencoba cincinnya?” tanya pegawai itu lalu menyodorkan dengan sopan
cincin yang bermotif sama namun berukuran lebih besar dari yang dipakai Sulli.
Taemin terkejut mendengar ucapan pegawai toko.
“T-Tttaa—pppii..” dia
terbata, merespon anjuran pegawai itu tangannya menolak dengan halus.
« Coba saja dulu. »
potong Sulli yang kini tertunduk, rambutnya yang panjang menutupi matanya yang
sudah berkaca-kaca.
Taemin menyerah, dia
tidak akan bisa menolak permintaan Sulli, entah ada sihir apa dalam setiap
perkataan Sulli hingga mampu menggerakkan hati Taemin untuk melaksanakan setiap
permintaannya.
Taemin memasang cincin
itu di jari manisnya, cincin itu seakan mengandung beban lebih dari 50kg,
membuatnya gemetar. Dia memang tidak pantas memakai cincin itu. Karena dia
hanya seorang pecundang.
« Sepertinya cincin
ahjussi agak longgar… apa harus diperkecil ? » tanya pegawai toko itu
dengan ramah, ia berusaha membuat suasana kikuk ini mencair.
Taemin segera membuka
cincin yang tidak sesuai dengan ukuran jari manisnya dan meletakkan kembali ke
dalam boxnya.
« Kami bisa
memperkecil sesuai dengan ukuran ahjussi. » terang pegawai itu pada
pasangan itu, tapi tidak tahu yang menyahut.
« Tidak
usah, agashi. Menurutku itu sudah sesuai. Nanti dia akan mengukurnya
sendiri. » jawab Taemin memecah kebisuan diantara keduanya, membuat
pegawai itu kebingungan, tapi ia tetap mengiyakan kemauan Taemin.
Sulli tertunduk sejenak,
lalu ia melepas cincin yang dipakainya. Taemin mengambil gambar kedua cincin
itu lalu menguploadnya lagi.
« Aku pilih yang
ini, tolong dipersiapkan semuanya. » ucap Sulli lalu tersenyum hingga
matanya membentuk bulan sabit. Sesaat setelahnya, pegawai meninggalkan mereka
berdua dalam keheningan yang dalam, di toko perhiasaan esklusif dengan pegawai
yang tetap melanjutkan kegiatan masing-masing.
‘Lebih baik
tadi aku datang ke sini sendiri. Akan lebih mudah untukku. Aku terlalu lama
membohongi diriku sendiri, membohongi semua orang termasuk dia. Aku tidak akan
pernah bisa melupakannya.’ Batin Sulli yang semakin tertunduk menahan semua
emosi di dalam dirinya agar tidak nampak di depan Taemin.
Taemin
menoleh ke arah Sulli, ia tidak tahu apa yang terjadi pada yeoja ini. Biasanya
dia akan bertanya, tapi kali ini dia hanya bisa diam. Tidak ada yang pernah
bisa menebak hati Sulli, termasuk dirinya.
Taemin kini
menyandarkan badannya, menghela napas panjang. Ia hanya bisa menunggu Sulli
bicara atau setidaknya menemukan bahan pembicaraan yang mampu menghilangkan
suasana canggung seperti ini. Tapi, dia tidak bisa menemukan apapun di tengah
serpihan luka yang berserakan di hati dan pikirannya.
‘Inilah akhir
semuanya. Memang harus berakhir seperti ini, kita tidak pernah berjodoh. Benang
merah yang dulu terlihat diantara kelingking kita hanyalah sebuah ilusi. Bahwa nyatanya benang merah di kelingking kita tidak
pernah saling terhubung.’ Batin Taemin mencoba bijak pada dirinya sendiri.
Ia mencoba melirik Sulli yang kini menatap
smartpad-nya. Ia bisa melihat dengan jelas Sulli sedang memandangi lekat fotonya
dengan seorang yang tidak asing baginya. Namja berambut hitam dengan senyum
khasnya. Mereka terlihat serasi dengan konsep foto glamor, foto pertunangan
mereka. Ia menemukan jawaban untuk
Krystal, saat Sulli menyentuh layar pad-nya.
‘Mianhe Krys.. Jeongmal
Mianhe. Aku tidak bisa menjalankan tugasku… Mianhe, Krys.’ Batin Taemin
membayangkan wajah Krystal yang sekarang pasti sedang terpuruk.
‘Sulli
mencintainya dan rindu padanya. Sedangkan aku tahu dia mencintainya melebihi
apapun.’ Batin Taemin ia kini membenamkan wajahnya dalam telapak tangannya.
Sulli memutar
foto dalam pad-nya, mencari sebuah foto di sebuah taman yang agak kabur karena
tidak focus, dia dengan seorang namja berambut coklat dan keduanya sedang
tersenyum pada kamera, keduanya masih terlihat seperti anak-anak. Namja itu
bukan namja yang dilihat Taemin sebelumnya. Setetes airmata jatuh membasahi
pad-nya membuat layar sensitifnya memperbesar foto itu. Wajah namja itu semakin
jelas di mata Sulli yang mengabur karena air mata.
Saat keduanya sedang
berperang dengan batinnya masing-masing. Pegawai yang sedari tadi melayani
mereka kembali membawa beberapa dokumen dan ia menyerahkan sebuah kertas dan
pena pada Sulli kembali terlihat tanpa beban. Segera ia matikan pad-nya.
“Mungkin anda ingin
mengukir nama di dalam cincinnya, silahkan tulis di sini agashi.”
Tawar pegawai
itu ramah.
“Ne,
Ghamsahamnida.” Sulli mengambil pena dan mulai menulis di kertas yang sudah
disediakan.
Pengantin
Wanita : Choi Jin Ri
Pengantin
Pria :
Sulli
berhenti menulis, airmatanya menetes lagi. Airmatanya akan mulai terbentuk saat
dia ada disekitarnya. Semenjak namja disebelahnya masuk ke dalam toko ini. Mungkin
sangat mudah untuk Sulli berakting di depan orang lain. Tapi selalu tampak bahagia dan baik-baik saja di
depannya adalah peran yang paling susah yang pernah ia perankan. Berusaha ceria
di depan namja yang sampai sekarang masih menjadi mataharinya adalah hal yang
paling mustahil baginya.
Sulli mulai
menulis dan membentuk kata Lee-Tae-Min. Itulah kata yang ia tulis di atas
angin. Karena dia tidak mungkin menuliskan nama itu di kertas yang basah oleh
tetes airmatanya.
Taemin melihat airmata Sulli, tapi ia tidak bisa
membaca airmata apa itu. Ia mengintip apa yang sedang Sulli tulis. Kertas yang
agak basah itu diambilnya begitupula dengan penanya. Dia tidak mengerti makna
airmata Sulli, entah itu airmata haru atau airmata sedih. Dia tidak tahu
mengapa ia merasa sakit melihat airmata itu, tapi dia tetap menuliskan sebuah
nama untuk mengisi kolom pengantin pria yang masih kosong.
Pengantin
Wanita : Choi Jin Ri
Pengantin Pria :
Kim Jong In
Choi Sulli seorang artis muda dengan
kekayaan yang melimpah tidak pernah menyangka hubungannya dengan Taemin akan
berakhir seperti ini. Saat Sulli mencaci dan menghinanya dia hanya diam tak
menjawab apalagi membalasnya. Keegoisan Sulli menutup mata hatinya, hingga ia
memutuskan hubungan mereka 3 tahun lalu.
March 31 2009
« Aku benci padamu ! Kamu
tidak pantas untukku.. »
« Bahkan teman-temanku di Amerika pulang untuk
merayakan ulangtahunku. Sedangkan kamu… entah dimana… kita memang berbeda…
lebih baik kita akhiri hubungan ini, Oppa..! » amarah Sulli meledak saat
Taemin datang menemuinya 2 hari setelah hari ulangtahunnya.
Taemin hanya diam tak bisa berkata apa-apa.
March 29 2011
Hari ini Taemin hadir di pesta Ulangtahun Sulli, yang
tidak pernah sekalipun ia hadiri dulu. Sulli terlihat bahagia bergandengan
dengan orang yang sangat Taemin kenal, Jong In.
“Kami akan mengumumkan, bahwa hari ini Choi Jin Ri dan
Kim Jong In akan meresmikan hubungan mereka dalam ikatan pertunangan.”
Semua bersorak ikut berbahagia. Taemin menjadi teman
pertama yang mengucapkan selamat untuk keduanya. Taemin dan Sulli hanya saling
tersenyum, meluapkan rasa bahagia. Walau di hati mereka, tertusuk ribuan duri
kesedihan.
Taemin dan Sulli seakan tidak pernah benar-benar
berpisah, mereka selalu ada di sekitar masing-masing. Taemin membantu Jong In
mendekati Sulli agar Jong In bisa membahagiakan Sulli. Hal yang tidak pernah
bisa dilakukannya dulu, sedangkan Sulli memilih Jong In agar ia bisa tetap
melihat Taemin dan hanya itu membuatnya bahagia.
Taemin hanya anak seorang nelayan yang bekerja sambilan
sebagai backup dancer, ia bersahabat dengan Jong In yang disayanginya bahkan
melebihi dirinya sendiri.
March 28 2009
Taemin berlari di tengah hujan pertama
setelah musim salju malam itu, 30 menit lagi hari akan berganti. Ia basah kuyup sampai di rumah megah kediaman keluarga Kim. Dia berlutut
dan memohon kepada mereka.
“Ahjussi, tolong bantu appa saya. Dia harus dioperasi
hari ini juga. Saya butuh bantuan anda. Pinjami saya uang, saya akan
membayarnya seumur hidup saya. Hanya anda yang bisa saya mintai tolong.. Tolong
Ahjussi..” ucap Taemin bergetar karena
kedinginan .
Umma Jong In merangkul Taemin, saat itupun appa Jong
In bersedia membantu Taemin. Operasinya appa Taemin berhasil.
Tidak ada yang bisa dilakukannya untuk membalas budi
baik keluarga Kim hingga ujian terbesar datang saat Jong In pulang dari
studinya di Amerika. Dia mengatakan bahwa ia jatuh cinta pada Sulli dan
menyuruh Taemin membantunya mendapatkan hati Sulli karena mereka kuliah di
universitas yang sama. Setelah lulus Taemin bekerja keras membantu perusahaan
Kim keluar dari krisis. Ternyata dia harus membalas kebaikan keuarga Kim dengan
hatinya sendiri. Dan dia tidak keberatan dengan hal itu.
Sulli dan Taemin berperan dengan sangat baik,
menunjukkan bahwa masalah lalu mereka sudah berakhir tanpa masalah di depan
semua orang. Sulli memang aktris hebat nan cantik dengan senyum dan eye
smile-nya saja mampu menyembunyikan hatinya yang sebenarnya sudah tidak
berbentuk lagi semenjak melepas mataharinya. Taemin bukan actor, tapi dia bisa
tetap menjadi Taemin yang ceria dan bersemangat, karena kini Sulli sudah
menjadi matahari bagi orang lain bahkan kini ia sudah menjelma menjadi sesuatu
yang lebih indah dari bunga matahari.
Taemin menulis dengan
tepat, dengan ejaan yang benar. Namja yang seharusnya menemani tunangannya
membeli cincin pernikahan, malah menyuruh sahabatnya menggantikan tugasnya
untuk sementara waktu. Jong In membalas
pesan kakao talk Taemin setelah rapatnya
selesai.
Just-Jongin
: Cincin itu sempurna, Taeminie… kekeke aku tidak sabar ingin memakainya..
jinjja…
Just-Jongin :
Gomawo, jeongmal gomawo.. sampaikan salamku untuk JinRi. Bilang padanya jangan
terlalu sering mematikan ponsel dan pad-nya. Aku susah menghubunginya dari London
T.T
Just-Jongin :
Bisa sampaikan salamku dan bilang padanya bahwa aku sangat-sangat mencintai
Choi Sulli…
Taemin membaca pesan beruntun dari Jong In lalu
menunjukkan pesan Jong In pada Sulli. Sulli terkekeh membaca pesan tunangannya.
Nampak bahagia, Mungkin hati Krystal akan semakin hancur membaca pesan Jong In.
Krystal tidak boleh menghalangi keduanya mendapatkan kebahagiaan, karena baik
dia maupun Krystal adalah masa lalu yang sebaiknya tidak muncul di masa depan
Jong In dan Sulli. Karena dia tidak mungkin menarik mundur hati Jong In yang
sudah diberikan hanya untuk Sulli. Dan dia tidak mau melihat Sulli menderita
untuk kesekian kalinya, yeoja itu dan Jong In pantas mendapatkan hal yang
terbaik di hidup mereka. Karena Sulli dan Jong In adalah dua dari sedikit hal
terbaik yang pernah ada di hidup Lee Tae Min.
Sulli dan Taemin masih berada di dalam toko
perhiasaan. Cincinnya sudah terpilih, saatnya perpisahan bagi keduanya. Sulli
mengulurkan tangan pada Taemin. Taemin mengulurkan tangannya dan menyambut
tangan Sulli yang dingin. Yup, ini akhirnya.
“Gomawo, Taemin-ssi. Jeongmal Gomawo atas segalanya.
Aku senang berkenalan denganmu. Mianhe atas semua kesalahan yang pernah
kuperbuat di masa lalu.” Ucap Sulli tegar, ia menyembunyikan airmatanya dengan
rapi dengan eye smilenya.
Taemin tersenyum melihat senyum Sulli.
“Nado, Gomawo. Sulli-ssi aku tidak akan pernah
memaafkanmu, karena kamu tidak pernah sekalipun berbuat salah padaku.” Dia mengambil
jeda sejenak, mencari kata-kata yang tepat..
“Entah kapan kita bisa bertemu lagi, tapi kuharap,
pertemuan selanjutnya aku tidak bertemu airmatamu lagi.” Ucap Taemin seadanya
serta merta melepas tangan Sulli, dia berbaik membuka pintu toko itu. Sebelum
ia keluar ia menoleh ke arah Sulli,
“Anyeonghigaseyo, Ssul.” Ucapnya lalu menutup pintu
dan menghilang dari pandangan Sulli yang mulai mengabur. Airmatanya kini jatuh
tak tertahankan, membasahi pipinya yang bersemu merah. Isakannya meluluhkan
hati semua orang yang ada di toko perhiasaan itu, tak ada yang berani
mengganggunya mereka hanya memandangi dengan wajah prihatin. Sulli kini
terduduk membenamkan kepalanya di antara kedua kakinya.
“Kajima….” Bisiknya pelan.
Taemin berjalan keluar dari toko perhiasaan terbaik di
Seoul. Ia
menghembuskan napasnya, saat airmatanya mulai menetes.
“Aku terlalu mencintaimu, Ssul. Hingga aku takut tidak
bisa menjagamu dengan baik. Jong In
adalah pria yang tepat untukmu.” Gumamnya.
Dia mengangkat ponselnya dan menghubungi Crystal Jung.
Dengan suara bergetar, ia menyapa,
“Krystal, mianhe… aku tidak bisa memberitahu mereka
tentang keadaanmu sekarang. Aku tidak bisa membawa Kai padamu. Mereka saling
mencintai, kita tidak bisa merusak hubungan mereka. Kamu mencintai Kai, bukan?”
Tangis Krystal semakin menjadi, dia berada di posisi
yang sama dengan Taemin sekarang. Dia hanya masa lalu yang tiba-tiba muncul di
hadapan Kai 3 bulan lalu.
“Bila kamu msau, aku akan menggantikan tempat Kai. Aku
bersedia menjadi apapun untukmu.” tawar Taemin, inilah jawaban masalah Krystal.
Membiarkan Jong In hidup bahagia dengan Sulli dan dia mengganti Jong In menjadi
appa untuk bayi yang dikandung Krystal.
Di ujung telepon seorang yeoja yang hanya menangis
mendengar penjelasan Taemin lalu mengangguk pelan.
‘Mungkin aku tidak bisa sebaik dirinya tapi aku akan
berusaha menjagamu sebagaimana Kai kini menjaga bunga matahariku yang dulu.’ batin
Taemin, menengadahkan matanya ke atas mencegah airmatanya jatuh lagi.
Mungkin ini menjadi terakhir kalinya mereka bertemu,
tapi tidak ada yang bisa menebak masa depan, bahkan tidak ada yang bisa menebak
apa yang akan terjadi di detik selanjutnya.
Love is not just about receiving, it’s
also about giving
True love can be found even both side in
the different way.

No comments:
Post a Comment